إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ
إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا
هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ
عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ عِبَادَ اللهِ.. اِتَّقُوْا اللهَ رَبَّكُمْ وَأَطِيْعُوْهُ
لِتَنَالُوْا بِتَقْوَاهُ وَطَاعَتِهِ سَعَادَةَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ،
وَسَلُوْهُ جَلَّ وَعَلَا التَوْفِيْقَ وَالهِدَايَةَ وَالمَعُوْنَةَ عَلَى
التَقْوَى وَالطَاعَةِ؛ فَإِنَّ الأَمْرَ كُلَّهُ بِيَدِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Sungguh
dunia itu hina dan fana, sedangkan akhirat itu mulia dan kekal. Itulah
keterangan pasti yang terdapat Alquran dan sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Alangkah beruntung orang yang mau mendengarkan
nasehat-nasehat yang penuh makna dan mengena ini. Ia mendengarkannya dengan
penuh konsentrasi, berusaha memahaminya, merenungkannya lalu berusaha
merealisasikannya dengan perkataan dan perbuatannya.
Diantara
nasehat itu adalah firman Allah:
وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ
لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan
kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan
sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka
tidakkah kamu mau memahaminya?” (QS. Al-An’am/6:32).
Juga
firman-Nya,
وَمَا أُوتِيتُمْ
مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ
خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan apa
saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan
perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allah itu lebih baik dan lebih kekal.
Maka apakah kamu tidak mau memahaminya?” (QS. Al-Qhashas/28:60).
Juga
firman-Nya:
اللَّهُ
يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
“Allah
meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka
bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding
dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS.
Ar-Ra’du/13:26).
Juga
firman-Nya:
أَرَضِيتُمْ
بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
“Apakah kamu
puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal
kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat
hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah/9:38).
Allah ‘Azza
wa Jalla juga berfirman:
بَلْ
تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ﴿١٦﴾ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Tetapi kamu
(orang-orang kafir) lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat
adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la/87:16-17).
Dan masih
banyak lagi ayat-ayat senada yang menjelaskan dan mengingatkan kita tentang
hakikat dunia dan seluruh isinya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan
hidayah taufiq-Nya kepada kita semua agar bisa memahaminya dan
merealisasikannya dalam kehidupan kita di dunia ini.
Kaum
muslimin rahimakumullah,
Dunia dan
segala kenikmatannya ini akan pergi, akan sirna dan akan berakhir dengan cepat,
berbeda dengan segala kenikmatan akhirat yang tidak pernah berakhir
selama-lamanya.
Dalam sebuah
hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:
وَاللهِّ مَا
الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي
الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَا يَرْجِعُ؟
“Demi Allah!
Dunia dibandingkan akhirat hanyalah seperti seseorang dari kalian yang
mencelupkan salah satu jemarinya ke laut), maka lihatlah apa yang ada pada
jarinya tersebut saat ia keluarkan dari laut!” (HR. Muslim).
Dunia dan
seluruh isinya ini seperti air yang menempel di jari setelah dicelupkan di
lautan, sedangkan akhirat ibarat lautan yang sangat luas.
Dalam hadits
lain, dunia ini juga diibaratkan sebagai bangkai kambing yang cacat yang
seandainya kambing yang cacat itu masih hidup, maka tidak ada seorang pun yang
tertarik untuk memilikinya, lalu bagaimanakah jika kambing yang cacat sudah
menjadi bangkai? Adakah orang yang sudi mengambil dan menyimpannya?
Wahai jiwa
yang lebih mendahulukan dunia dibandingkan akhiratnya, tidakkah kita mau
berpikir tentang hakikat dunia ini?!
Wahai hamba
Allah,
Seandainya
seluruh dunia beserta isinya berada dalam genggamanmu, dan ditambah dengan satu
dunia lagi yang semisal dengan itu untukmu, maka apakah yang tersisa darinya
untukmu jika maut datang menjemputmu?!
Wahai hamba
Allah,
Setiap hari
selalu ada ibrah (pelajaran). Pada kematian yang kita saksikan atau pada berita
kematian yang sampai ke telinga kita terdapat pengingat agar berhenti jika kita
termasuk orang yang mau berhenti.
Sampai
kapan?… Sampai kapan?… Sampai kapan kita tidak bertakwa?…
Apakah kita
menunggu dan berhadap ada dunia lain setelah dunia ini? Ataukah kita berharap
dan berkeyakinan bahwa kita akan dikembalikan tapi tidak ke alam akhirat?!
Sungguh itu adalah sesuatu yang tidak mungkin … akan tetapi kedua telinga telah
tuli, keduanya tidak mau mendengar ayat-ayat … begitu juga hati, ia tidak
peduli lagi dengan nasehat-nasehat.
Wahai hamba
Allah,
Bergegaslah
menyambut seruan dan perintah Rabbmu dan persiapkanlah bekal perjalanan
akhiratmu! Bertaubatlah dari dosa-dosamu.
Alangkah
rugi seseorang yang menjual kenikmatan surga dengan angan-angan dusta, dengan
permainan-permainan yang menarik atau menukar surga dengan syahwat yang hina
dan perbuatan-perbuatan tercela.
Sungguh
sangat merugi orang yang menyebabkan Allah ‘Azza wa Jalla murka kepada
mereka serta menyia-nyiakan usia mereka dalam gelimangan dosa dan maksiat.
قُلْ إِنَّ
الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Katakanlah,
“Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri
mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. ingatlah yang demikian itu
adalah kerugian yang nyata. (QS. Az-Zumar/39: 15).
Maka
hendaklah kita memanfaat waktu yang tersisa untuk mempersiapkan bekal yang
pasti kita butuhkan dalam kehidupan akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman:
وَمَا
تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا
وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan
kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu akan memperoleh
(balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling
besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzammil/73:20).
نَسْأَلُ
اللهَ جَلَّ فِيْ عُلَاهُ أَنْ يَهْدِيَنَا أَجْمَعِيْنَ، وَأَنْ يُسَدِّدَنَا،
وَأَنْ يُلْهِمَنَا رُشْدَ أَنْفُسِنَا، وَأَنْ لَا يَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا
طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَنْ يُصْلِحَ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ، إِنَّهُ تَبَارَكَ
وَتَعَالَى سَمِيْعُ الدُّعَاءِ، وَهُوَ أَهْلُ الرَّجَاءِ، وَهُوَ حَسْبُنَا
وَنِعْمَ الوَكِيْلِ.
Khutbah
Kedua:
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ
وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا
بَعْدُ:
أَيُّهَا
المُؤْمِنُوْنَ، عِبَادَ اللهِ.. اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاسْتَمْسِكُوْا
بِهُدَاهُ، وَاعْتَنُوْا بِسُنَّةِ نَبِيِّهِ الكَرِيْمِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ
وَالسَّلَامُ؛ فَإِنَّ مَثَلَ السُنَّةِ مَثَلَ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا
نَجَا وَمَنْ تَرَكَهَا غَرِقٌ وَهَلَكٌ.
Kaum
muslimin, rahimakumullah!
Sungguh
sengsara orang yang setiap kali Allah berikan karunia dan kenikmatan yang baru
kepadanya, namun dia menggunakan kenikmatan dan karunia itu untuk berbuat dosa,
pelanggaran dan maksiat.
Sungguh
celaka orang yang semakin bertambah kekayaan dan hartanya, namun semakin
bertambah pula penyimpangan dan kesesatannya.
Berbagai
kenikmatan dan pemberian Allah terus tercurah kepadanya .. ada yang berupa
makanan yang bisa menguatkan tubuhnya … ada berupa air yang bisa menghilangkan
dahaganya … ada yang berwujud pakaian yang bisa menghiasi tubuhnya dan menutup
auratnya … ada kenikmatan dalam bentuk rumah yang menaunginya dari terpaan
hujan dan terik matahari yang menyengat juga melindunginya dari serangan hewan
yang mengancam … ada juga kenikmatan dalam wujud pasangan yang setia
memperhatikan dan menemaninya … juga nikmat dalam bentuk keamanan lingkungan
dari berbagai hal … Meski begitu banyak nikmat yang Allah ‘Azza wa Jalla
berikan kepadanya, namun dia terus berada dalam kubangan dosa, tidak mau lepas
dan enggan meninggalkan berbagai perbuatan buruk dan maksiatnya.
Sungguh
sangat celaka yang seperti ini, karena bisa jadi berbagai kenikmatan dan
kesenangan yang Allah ‘Azza wa Jalla karuniakan kepadanya merupakan
salah bentuk istidraj dan penangguhan dan penguluran siksa. Ingatlah firman
Allah ‘Azza wa Jalla:
وَلَا
يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ ۚ
إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan
janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu menyangka, bahwa pemberian tangguh
Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi
tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi
mereka adzab yang menghinakan.” (QS. Ali Imran/3:178).
Dari Uqbah
bin Amir radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا
رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيْهِ مَا يُحِبُّ
فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
“Jika engkau
melihat Allah memberikan anugerah dunia kepada hamba-Nya apa yang ia sukai,
sementara sang hamba tetap bermaksiat kepada-Nya, maka sesungguhnya itu adalah
istidraj.” (HR. Ahmad)
Kemudian
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah ‘Azza wa
Jalla
فَلَمَّا
نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ
إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Maka
tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami
pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila
mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa
mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
(QS. Al-An’am/6:44).
Ya Allah!
Karuniakanlah kepada kami taufik-Mu untuk menuju semua perkara yang Engkau
ridhai! Jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan maksiat!
Jadikanlah
kami termasuk para hamba-Mu yang senantiasa takut dan bertakwa kepada-Mu, ya
Rabbal ‘alamin.
وَاعْلَمُوْا
رَعَاكُمُ اللهُ أَنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ، وَخَيْرَ الهُدَى
هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ
مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ،
وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ، وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا
رَعَاكُمُ اللهُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ كَمَا أَمَرَكُمُ اللهُ فِي
كِتَابِهِ فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾[الأحزاب:56]، وَقَالَ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((من صلَّى عليَّ صلاة صلى الله عليه بها عشرا))
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَارْضَ
اللّٰهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ
بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ
أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ
الأَكْرَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ،
وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنَ يَا رَبَّ
العَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا،
وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا
رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ
وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ مِنْ سَدِيْدِ الأَقْوَالِ
وَصَالِحِ الأَعْمَالِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ.
اَللّٰهُمَّ
آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ
وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.
اَللّٰهُمَّ
إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعِفَّةَ وَالغِنَى.
اَللّٰهُمَّ
اهْدِنَا وَسَدِّدْنَا.
اَللّٰهُمَّ
أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ اَلَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا
دُنْيَانَا اَلَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي
فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ
وَالمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ، يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ
قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ،
عَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ.
اَللّٰهُمَّ
اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ
وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
عِبَادَ
اللهِ.. اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
(Diangkat
dari khutbah jum’at yang disampaikan oleh Syaikh Shalah al-Budair di Masjid
Nabawi pada tanggal 20 Shafar 1436 H dengan judul Mata’ud Dunya Qalil).
www.KhotbahJumat.com
Belum ada tanggapan untuk "Relakah Kamu, Kehidupan di Dunia Sebagai Ganti Kehidupan di Akhirat?{artikel ke3}"
Post a Comment